KMKB DALAM INGATAN DAN RENUNGAN
Oleh: Kanda Nasrullah
(Ketua KMKB Periode 2001-2002)
Oleh: Kanda Nasrullah
(Ketua KMKB Periode 2001-2002)
Sungguh ironis sekali, mahasiswa berasal satu kecamatan yang sama, dalam wilayah kabupaten Barito Kuala (Batola), tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka saling mengenal ketika terkumpul dalam rapat-rapat diselenggarakan oleh Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala (KMKB). Pernyataan tersebut hanyalah satu fragmen realitas dari pentingnya keberadaan KMKB, hingga tetap bertahan dan berkembang hingga sekarang. Alhamdulillah, adanya undangan ketua KMKB dalam acara silaturrahmi ini menjadi moment yang secara fomal untuk menyampaikan terbentuknya KMKB hingga seperti sekarang adanya.
Tulisan ini lebih mengandalkan ingatan sehingga bersifat subjektif karena berhubungan diri penulis sendiri. Oleh karena itu, cara penyampaian bersifat naratif mengenai fase terbentuknya KMKB dari fase konsolidasi, fase aksi, dan fase organisasi hingga eksistensi KMKB. Begitu pula setiap orang berperan penting dalam pembentukan KMKB, tetapi karena keterbatasan maka tidak semua orang bisa saya cantumkan namanya di sini. Berikut ini paparan tentang fase-fase tersebut dilanjutkan dengan beberapa hal yang dianggap penting.
Tulisan ini lebih mengandalkan ingatan sehingga bersifat subjektif karena berhubungan diri penulis sendiri. Oleh karena itu, cara penyampaian bersifat naratif mengenai fase terbentuknya KMKB dari fase konsolidasi, fase aksi, dan fase organisasi hingga eksistensi KMKB. Begitu pula setiap orang berperan penting dalam pembentukan KMKB, tetapi karena keterbatasan maka tidak semua orang bisa saya cantumkan namanya di sini. Berikut ini paparan tentang fase-fase tersebut dilanjutkan dengan beberapa hal yang dianggap penting.
Fase Konsolidasi: Kost dan Kampus
Saya masuk IAIN Antasari pada tahun 1997 dan menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah. Ada beberapa orang teman dari Batola yang sama-sama satu angkatan bahkan berasal dari satu MA. Saya pun bergaul dengan mahasiswa dari beda kabupaten. Mereka membuat saya iri, karena memiliki perkumpulan mahasiswa dan memiliki asrama yang dibuatkan oleh pemerintah daerah masing-masing. Dari beberapa orang senior, saya diberitahu bahwa pernah dilakukan pendekatan kepada pemerintah Batola untuk dibuatkan asrama, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Saya sempat berharap kepada para senior untuk menghubungkan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Batola ternyata tidak direspon.
Atas inisiatif sendiri dan dibantu teman-teman yang waktu itu masih dalam hitungan jari, kami mulai melakukan pertemuan-pertemuan. Kami merancang pemeritahuan yang ditulis tangan di atas selebar kertas, kemudian difotocopy menggunakan duit sendiri untuk ditempelkan di papan pengumuman semua fakultas. Upaya ini berlangsung dari tahun 1998 hingga tahun 2001. Jadi, ada empat tahun upaya mengumpulkan mahasiswa Batola.
Waktu empat tahun adalah proses. Pada awalnya, setiap kali pengumuman pertemuan mahasiswa Batola disampaikan, antusias mahasiswa sangat rendah. Saya dan beberapa orang teman, menunggu hingga satu atau dua jam sampai ada yang datang. Itupun hadir tiga orang atau lima orang saja. Demikianlah, berulang-ulang kali, kami rapat hanya dihadiri tidak lebih dari sepuluh orang. Entah kenapa tidak pernah ada rasa putus asa.
Suatu hari, kami mencoba melobi pemkab Batola untuk meminta bantuan dana mahasiswa. Berangkatlah saya (fakultas Dakwah), Rusdi (Fakultas Tarbiyah), Abu Bakar (Fakultas Syariah) dan Salamat (Fakultas Ushuluddin) menyampaikan permohonan bantuan. Setelah beberapa hari, ada respon positif dari pemkab yang menyetujui Bupati sebagai pelindung KMKB dan diberikan bantuan uang sebanyak Rp 120.000,-. Saya menggunakan uang tersebut untuk membeli kertas satu rim, penggaris, spidol dan gunting serta membuat stempel asrama. Sisanya, saya gunakan untuk mengundang teman-teman mahasiswa Batola berbuka puasa bersama di kost saya, di Gang Permata. Jumlah yang hadir tidak lebih dari 10 orang.
Setelah buka bersama itu, disepakati kembali untuk acara berbuka puasa dengan jumlah lebih banyak di kost Sri Wahyuni (Fakultas Syariah) bertempat di komplek Bulan Mas. Jumlah yang hadir lebih banyak, ada sekitar 27 orang. Di waktu lain, kami mengadakan buka puasa bersama di salah ruang kuliah Fakultas Dakwah yang dihadari belasan orang. Selama buka bersama tersebut, biayanya berasal dari urunan bersama pula. Rupanya buka bersama menjadi ajang konsolidasi yang tepat karena sejak itu semakin banyak mahasiswa yang hadir dalam rapat.
Kesadaran mahasiswa Batola untuk ikut bergabung di KMKB mulai membanggakan pada tahun 2000. Angkatan 2000, terutama Ali, Aspul, Hadi, Nanik, Rahma, Rafiah, dan nama-nama yang tidak mungkin saya sebutkan, aktif dalam setiap pertemuan KMKB. Akhirnya peserta yang hadir dari bilangan jari tangan, menjadi belasan orang hingga mencapai 30 an orang dan memenuhi salah satu ruang kuliah di Fakultas Dakwah.
Setelah kami merasakan jumlah mahasiswa Batola terkumpul secara konstan mencapai puluhan orang. Maka saat inilah saatnya yang tepat memilih ketua KMKB. Tahun 2000 itu, saya dipilih sebagai ketua KMKB, Mukarramah (Fakultas Ushuluddin) sebagai sekretarinya. Kegiatan kami sangat sederhana: mengadakan rapat, merayakan peringatan hari besar Islam.
Saya masuk IAIN Antasari pada tahun 1997 dan menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah. Ada beberapa orang teman dari Batola yang sama-sama satu angkatan bahkan berasal dari satu MA. Saya pun bergaul dengan mahasiswa dari beda kabupaten. Mereka membuat saya iri, karena memiliki perkumpulan mahasiswa dan memiliki asrama yang dibuatkan oleh pemerintah daerah masing-masing. Dari beberapa orang senior, saya diberitahu bahwa pernah dilakukan pendekatan kepada pemerintah Batola untuk dibuatkan asrama, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Saya sempat berharap kepada para senior untuk menghubungkan mahasiswa yang sama-sama berasal dari Batola ternyata tidak direspon.
Atas inisiatif sendiri dan dibantu teman-teman yang waktu itu masih dalam hitungan jari, kami mulai melakukan pertemuan-pertemuan. Kami merancang pemeritahuan yang ditulis tangan di atas selebar kertas, kemudian difotocopy menggunakan duit sendiri untuk ditempelkan di papan pengumuman semua fakultas. Upaya ini berlangsung dari tahun 1998 hingga tahun 2001. Jadi, ada empat tahun upaya mengumpulkan mahasiswa Batola.
Waktu empat tahun adalah proses. Pada awalnya, setiap kali pengumuman pertemuan mahasiswa Batola disampaikan, antusias mahasiswa sangat rendah. Saya dan beberapa orang teman, menunggu hingga satu atau dua jam sampai ada yang datang. Itupun hadir tiga orang atau lima orang saja. Demikianlah, berulang-ulang kali, kami rapat hanya dihadiri tidak lebih dari sepuluh orang. Entah kenapa tidak pernah ada rasa putus asa.
Suatu hari, kami mencoba melobi pemkab Batola untuk meminta bantuan dana mahasiswa. Berangkatlah saya (fakultas Dakwah), Rusdi (Fakultas Tarbiyah), Abu Bakar (Fakultas Syariah) dan Salamat (Fakultas Ushuluddin) menyampaikan permohonan bantuan. Setelah beberapa hari, ada respon positif dari pemkab yang menyetujui Bupati sebagai pelindung KMKB dan diberikan bantuan uang sebanyak Rp 120.000,-. Saya menggunakan uang tersebut untuk membeli kertas satu rim, penggaris, spidol dan gunting serta membuat stempel asrama. Sisanya, saya gunakan untuk mengundang teman-teman mahasiswa Batola berbuka puasa bersama di kost saya, di Gang Permata. Jumlah yang hadir tidak lebih dari 10 orang.
Setelah buka bersama itu, disepakati kembali untuk acara berbuka puasa dengan jumlah lebih banyak di kost Sri Wahyuni (Fakultas Syariah) bertempat di komplek Bulan Mas. Jumlah yang hadir lebih banyak, ada sekitar 27 orang. Di waktu lain, kami mengadakan buka puasa bersama di salah ruang kuliah Fakultas Dakwah yang dihadari belasan orang. Selama buka bersama tersebut, biayanya berasal dari urunan bersama pula. Rupanya buka bersama menjadi ajang konsolidasi yang tepat karena sejak itu semakin banyak mahasiswa yang hadir dalam rapat.
Kesadaran mahasiswa Batola untuk ikut bergabung di KMKB mulai membanggakan pada tahun 2000. Angkatan 2000, terutama Ali, Aspul, Hadi, Nanik, Rahma, Rafiah, dan nama-nama yang tidak mungkin saya sebutkan, aktif dalam setiap pertemuan KMKB. Akhirnya peserta yang hadir dari bilangan jari tangan, menjadi belasan orang hingga mencapai 30 an orang dan memenuhi salah satu ruang kuliah di Fakultas Dakwah.
Setelah kami merasakan jumlah mahasiswa Batola terkumpul secara konstan mencapai puluhan orang. Maka saat inilah saatnya yang tepat memilih ketua KMKB. Tahun 2000 itu, saya dipilih sebagai ketua KMKB, Mukarramah (Fakultas Ushuluddin) sebagai sekretarinya. Kegiatan kami sangat sederhana: mengadakan rapat, merayakan peringatan hari besar Islam.
Fase Aksi: Demonstrasi Menuntut Asrama
Semangat mendirikan KMKB dan saya pribadi beristiqamah agar KMKB mendapatka wadah berupa asrama putra putri, sesungguhnya tidak hanya karena melihat mahasiswa di daerah lain memiliki asrama. Waktu itu, tahun 1998 adalah pecahnya reformasi. Hampir setiap hari mahasiswa turun ke jalan menuntut pemerintahan Soeharto lengser. Pasca lengsernya Soeharto, gerakan mahasiswa terus menguat dan saya menjadi bagian kecil dari arus reformasi itu. Namun, saya berfikir, jika terus-terusan ikut arus besar ini maka yang kelihatan kecil yakni isu daerah terutama nasib sendiri (KMKB) terlupakan. Maka dari itu, saatnya semangat reformasi dibawa ke daerah.
Aksi mahasiswa Batola yang tergabung dalam KMKB mendapat momentum yang tepat ketika masyarakat Marabahan melakukan aksi moral meminta ketua DPRD Batola untuk mundur tahun 2001. Sebelum aksi moral demontrasi ke Marabahan, terlebih dahulu diadakan rapat. Ada pro dan kontra selama rapat itu. Anehnya kelompok yang tidak setuju adalah dari kalangan mahasiswa, sedangkan yang setuju kebanyakan mahasiswi. Jadi aksi moral demontrasi mahasiswa pertama kali di Batola itu karena semangat dari mahasiswi. Akhirnya, sekitar 40 orang mahasiswa melakukan demonstrasi di Marabahan, tepatnya di depan kantor DPRD Batola, hingga melakukan audiensi dengan wakil rakyat tersebut. Orator waktu itu adalah Untung Khodori, mahasiswa Tarbiyah angkatan 95 dari Wanaraya.
Tidak beberapa lama setelah aksi tersebut, mungkin ada sekitar satu minggu, aksi lanjutan kembali dilakukan aktivis KMKB. Kali ini tuntutannya adalah meminta asrama kepada pemkab Batola. Alhamdulillah, Bupati Batola, Bardiansyah Mudjidi mau menemui mahasiswa Batola dari IAIN Antasari. Beliau menyetujui mengontrakkan asrama putra dan putri Batola.
Semangat mendirikan KMKB dan saya pribadi beristiqamah agar KMKB mendapatka wadah berupa asrama putra putri, sesungguhnya tidak hanya karena melihat mahasiswa di daerah lain memiliki asrama. Waktu itu, tahun 1998 adalah pecahnya reformasi. Hampir setiap hari mahasiswa turun ke jalan menuntut pemerintahan Soeharto lengser. Pasca lengsernya Soeharto, gerakan mahasiswa terus menguat dan saya menjadi bagian kecil dari arus reformasi itu. Namun, saya berfikir, jika terus-terusan ikut arus besar ini maka yang kelihatan kecil yakni isu daerah terutama nasib sendiri (KMKB) terlupakan. Maka dari itu, saatnya semangat reformasi dibawa ke daerah.
Aksi mahasiswa Batola yang tergabung dalam KMKB mendapat momentum yang tepat ketika masyarakat Marabahan melakukan aksi moral meminta ketua DPRD Batola untuk mundur tahun 2001. Sebelum aksi moral demontrasi ke Marabahan, terlebih dahulu diadakan rapat. Ada pro dan kontra selama rapat itu. Anehnya kelompok yang tidak setuju adalah dari kalangan mahasiswa, sedangkan yang setuju kebanyakan mahasiswi. Jadi aksi moral demontrasi mahasiswa pertama kali di Batola itu karena semangat dari mahasiswi. Akhirnya, sekitar 40 orang mahasiswa melakukan demonstrasi di Marabahan, tepatnya di depan kantor DPRD Batola, hingga melakukan audiensi dengan wakil rakyat tersebut. Orator waktu itu adalah Untung Khodori, mahasiswa Tarbiyah angkatan 95 dari Wanaraya.
Tidak beberapa lama setelah aksi tersebut, mungkin ada sekitar satu minggu, aksi lanjutan kembali dilakukan aktivis KMKB. Kali ini tuntutannya adalah meminta asrama kepada pemkab Batola. Alhamdulillah, Bupati Batola, Bardiansyah Mudjidi mau menemui mahasiswa Batola dari IAIN Antasari. Beliau menyetujui mengontrakkan asrama putra dan putri Batola.
Fase Organisasi
Itulah cikal bakal asrama puteri yang ada di Kemiri hingga sekarang ini, sedangkan asrama putra selalu berpindah-pindah dari Rambai Padi, Rama, Kemiri, Cengkeh, kembali ke Rama, hingga di asrama sekarang. Selama berpindah-pindah asrama ini berbagai macam masalah terjadi. Watak superior mengutamakan ego masing-masing, rapat penuh dengan intimidasi, kisah asmara, hingga ada hantu di asrama menjadi kenangan yang membawa kepada keakraban bagi alumni KMKB.
Semangat berorganisasi yang tinggi dan memanfaatkan asrama lebih dari sekedar tempat tinggal sehingga berbagai kegiatan dilakukan. Termasuk ketika diadakan buka puasa bersama yang dihadiri Bupati Batola. KMKB juga pernah menyelenggarakan buka puasa dengan pemkab Batola dan tokoh masyarakat di Aula Yayasan Kanker pada tahun 2001.
Setelah saya tidak menjabat sebagai ketua KMKB, aktivitas ke masyarakat dilakukan melalui pengabdian masyarakat. Di asrama putri, selama beberapa tahun menjadi tempat pembekalan tes masuk IAIN. Mahasiswa Batola yang tinggal di asrama sangat membantu penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Pada bulan September 2012, KMKB dipercaya pemkab Batola mengadakan seminar sosialiasi bagi pemilih pemula di kecamatan Alalak. KMKB juga terlibat aksi kemanusiaan, turun ke jalan untuk mengumpulkan uang demi membantu kebakaran di kota Marabahan tahun 2010.
Itulah cikal bakal asrama puteri yang ada di Kemiri hingga sekarang ini, sedangkan asrama putra selalu berpindah-pindah dari Rambai Padi, Rama, Kemiri, Cengkeh, kembali ke Rama, hingga di asrama sekarang. Selama berpindah-pindah asrama ini berbagai macam masalah terjadi. Watak superior mengutamakan ego masing-masing, rapat penuh dengan intimidasi, kisah asmara, hingga ada hantu di asrama menjadi kenangan yang membawa kepada keakraban bagi alumni KMKB.
Semangat berorganisasi yang tinggi dan memanfaatkan asrama lebih dari sekedar tempat tinggal sehingga berbagai kegiatan dilakukan. Termasuk ketika diadakan buka puasa bersama yang dihadiri Bupati Batola. KMKB juga pernah menyelenggarakan buka puasa dengan pemkab Batola dan tokoh masyarakat di Aula Yayasan Kanker pada tahun 2001.
Setelah saya tidak menjabat sebagai ketua KMKB, aktivitas ke masyarakat dilakukan melalui pengabdian masyarakat. Di asrama putri, selama beberapa tahun menjadi tempat pembekalan tes masuk IAIN. Mahasiswa Batola yang tinggal di asrama sangat membantu penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Pada bulan September 2012, KMKB dipercaya pemkab Batola mengadakan seminar sosialiasi bagi pemilih pemula di kecamatan Alalak. KMKB juga terlibat aksi kemanusiaan, turun ke jalan untuk mengumpulkan uang demi membantu kebakaran di kota Marabahan tahun 2010.
Menjadi Penghuni Asrama
Saya menjadi penghuni asrama tidak pada saat menjadi mahasiswa S1. Pada masa-masa libur kuliah S2 di Yogyakarta, saya sering menginap di asrama Putra Kemiri dalam. Bahkan saya resmi menjadi penghuni asrama ketika sudah menjadi dosen. Waktu itu, tempat kontrak saya mendadak diambil alih sebelum waktunya. Tidak ada tempat lain kecuali mengungsi ke asrama di Rama.
Selama di asrama, saya diminta menyeleksi mahasiswa Batola yang ingin masuk ke asrama. Beberapa orang mahasiswa membatalkan diri dengan sendirinya, barangkali setelah melihat peringatan keras “Dilarang membawa perempuan dalam kamar” atau “Dilarang mabuk-mabukan”.
Saya menjadi penghuni asrama tidak pada saat menjadi mahasiswa S1. Pada masa-masa libur kuliah S2 di Yogyakarta, saya sering menginap di asrama Putra Kemiri dalam. Bahkan saya resmi menjadi penghuni asrama ketika sudah menjadi dosen. Waktu itu, tempat kontrak saya mendadak diambil alih sebelum waktunya. Tidak ada tempat lain kecuali mengungsi ke asrama di Rama.
Selama di asrama, saya diminta menyeleksi mahasiswa Batola yang ingin masuk ke asrama. Beberapa orang mahasiswa membatalkan diri dengan sendirinya, barangkali setelah melihat peringatan keras “Dilarang membawa perempuan dalam kamar” atau “Dilarang mabuk-mabukan”.
Penutup: Jalan Kita Masih Panjang
Dari paparan di atas, sesungguhnya masih terdapat banyak kekurangan. Di antaranya, kita tidak terbiasa melakukan pengarsipan, sehingga begitu peralihan ketua KMKB maka berarti membuka lembaran baru dan lembaran lama entah di mana. Kedudukan kami sebagai alumni KMKB hanya berfungsi sebagai kontrol yang sesekali datang ke asrama. Kini tongkat estafet sudah beralih. Setiap masa memiliki kekurangan, tetapi juga memiliki keistimewaan. Hanya saja yang mesti tidak berubah adalah kerukunan kita sebagai mahasiswa Batola.
Dari paparan di atas, sesungguhnya masih terdapat banyak kekurangan. Di antaranya, kita tidak terbiasa melakukan pengarsipan, sehingga begitu peralihan ketua KMKB maka berarti membuka lembaran baru dan lembaran lama entah di mana. Kedudukan kami sebagai alumni KMKB hanya berfungsi sebagai kontrol yang sesekali datang ke asrama. Kini tongkat estafet sudah beralih. Setiap masa memiliki kekurangan, tetapi juga memiliki keistimewaan. Hanya saja yang mesti tidak berubah adalah kerukunan kita sebagai mahasiswa Batola.
Alumni Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Batola (KMKB)
IAIN Antasari Banjarmasin

